Menjaga Kepercayaan

Bersama : H. Sugeng Pramono

Orang bijak mengatakan, menjaga kepercayaan itu tak ubahnya seperti menjaga kesehatan. Sekali kepercayaan itu cedera maka sangat sulit untuk mengembalikannya. Kita tak ubahnya menjadi seseorang yang didera penyakit kronis yang sulit tersembuhkan. Karena itulah, jangan pernah sekalipun untuk mengkhianati kepercayaan yang diamahkan kepada kita.

Setidaknya, hal itulah yang tengah dihadapi oleh para pemimpin dan elite yang tengah berkuasa di negeri ini. Kepercayaan mereka tengah di uji lewat sebuah kasus bernama Centurygate. Apakah mereka akan mampu menjaga kepercayaan rakyat, atau sekali lagi akan mengkhianatinya seperti yang lalu-lalu.

Bagi para pemimpin, memenang tak mudah menjaga kepercayaan rakyatnya. Karena itulah, kepercayaan adalah aset termahal dari seorang pemimpin, sebab kepercayaan itulah yang mengantar seorang pemimpin duduk dikursinya.

Sukses seorang pemimpin bisa diukur dari keberhasilannya menjaga kepercayaan yang diberikan rakyat kepedanya dari awal dia memimpin, pertengahan, sampai dimasa akhir jabatannya. Jika kepercayaan itu diukur dan berkurang apalagi disaat akhir jabatan, ini akan menjadi lawan besar baginya untuk meraih sukses berikutnya.

Jika seorang pemimpin mau melaksanakan resep ini, menjaga kepercayaan rakyat sebenarnya sangat sederhana dan mudah, yakni hanya dengan membuka diri seluas-luasnya. Selain terbuka, pemimpin juga harus belajar mendengar.

"Tuhan memberikan manusia dua telinga dan satu lidah, supaya bisa mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara." Demikianlah kata sebuah peribahasa bijak.

"Perlu diingat bahwa menjag kepercayaan (amanah) lebih sulit dari mencarinya. Maka tetapkan hati pada amanah yang telah Allah berikan kepada kita, tekadkan jiwa untuk menjaga amanah tersebut. Berhati-hatilah dengan amanah dari manusia karena boleh jadi amanah itulah yang akan mengantarkan kita ke jurang neraka.

"Sesungguhnya Kami menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung. Namun mereka menolak dan khawatir untuk memikulnya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi amat bodoh." (QS. Al-Ahzab : 72)

Penting pula direnungkan : Menjaga amanah adalah tuntunan iman, sedangkan khianat adalah salah satu ciri kekafiran. sabda Rasulullah SAW : "Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Barang siapa yang hatinya kehilangan sifat amanah maka dia akan menjadi orang yang mudah berdusta dan khianat. Dan barang siapa yang meiliki sifat dusta dan khianat, maka, dia berada dalam barisan orang-orang munafik.

Disia-siakannya amanah merupakan salah satu tanda-tanda datangnya hari kiamat. Hal ini seperti dinyatakan Rasulullah SAW dalam sabdanya, "Jika amanah diabaikan maka tunggulah kiamat." (HR. Bukhori)

Perlu menjadi evaluasi bersama, bahwa amanah itu bukanlah hanya suatu yang bersifat hubungan vertikal kepada Allah yang akan dipertanggungjawabkan dihari akhir saja. Akan tetapi amanah yang bersifat hubungan horizontal kita kepada sesama manusia pun perlu diperhatikan. Bagi kita yang diberikan kepercayaan memimpin, maka yakinkan bahwa itu adalah amanah yang akan diminta pertanggungjawaban dihadapan manusia dan pula dihadapan Allah, tentunya.

Karena menjaga kepercayaan (amanah) lebih sulit dari mencarinya, maka tetapkan hati pada amanah yang telah Allah berikan kepada kita, dan tekadkan jiwa untuk menjaga amanah dari manusia dengan penuh tanggungjawab. Berhati-hatilah dengan amanah dari manusia karena boleh jadi amanah itu yang akan mengantarkan kita kejurang neraka.

Semoga para pemimpin kita senantiasa diberikan kekuatan dalam menjalankan dan menjaga amanah yang telah diembankan kepadanya.

Lebih dari itu, kita semua sejatinya adalah para pemimpin, yang juga diwajibkan untuk menjaga amanah yang melekat pada diri kita. Renungkanlah Hadist Rasulullah SAW ini,"Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka. Lelakai adalah pemimpin ditengah keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Wanita adalah pemimpin dirumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawabann tentang kepemimpinannya."

Semoga kita semua senantiasa dapat menjaga amanah. Dan semoga gonjang-ganjing kasus Bank Century akan berakhir dengan amanah pula. Amin Ya Rabbal Alamin. . .!

0 Komentar "Menjaga Kepercayaan", Baca atau Masukkan Komentar

Followers