Kejujuran : Sifat Termulia

Bersama : H. Sugeng Pramono

     MANUSIA membutuhkan manusia lainnya, atau selalu ingin hidup bermasyarakat. Hal ini bagian dari naluri kemanusiaan. Terkain interaksi tersebut, tentunya "komunikasi menjadi tema sentralnya. Tingkat efektifitas komunikasi tergantung pada tingkat kejujuran seseorang dalam berkomunikasi. jika komunikasi tampa landasan kejujuran, maka dampaknya adalah penyesatan, dan akhirnya ketidakpercayaan. Jika hal itu terjadi secara kontinyu dan massif, maka konflik sosial akan mudah terjadi karena ketidakpercayaan.

     Ketidakpercayaan adalah sumber dari segala sumber konflik, bukan perbedaan agama, ras maupun etnis, bahkan golongan. Marikah kita lihat kebelakang, realitas masyarakat Indonesia yang heterogen sering menjelma menjadi komflik yang selalu saja diawali oleh adanya ketidakjujuran dalam berkomunikasi dan berinteraksi, sehingga muncuk ketidakpercayaan. Soekarno dan Soeharto jatuh dari kekuasaannya adalah karena mereka tak jujr kepada bangsa dan rakyatnya.

     Sekarang marilah kita lihat, masyarakat tengah menyaksikan drama saling tuding, saling bantah, dan perang urat saraf, disertai bumbu sumpah demi kebenaran versi otang mereka masing-masing. Sikap kesatria yang dilandasi karakter kejujuran dan kehormatan seolah sirna. Situasi terkini memunculkan pertannyaan : Sudah hilangkah suara hati bangsa ini ?

Pertunjukan perilaku tidak jujur itu

     Untuk zaman sekarang, sudah bukan zamannya lagi menjadi pemimpin yang ditakuti. Yang patut dikerjakan oleh seorang pemimpin adalah harus dapat membaca situasi, sehingga dia mampu mengendalikan orang lain, termasuk mengendalikan segala perilakunya agar sentiasa menjadi panutan bagi orang yang dipimpinnya. Hal inilah yang akan menjadikan seorang pemimpin disegani sekaligus dihormati.

     Marilah kita renungi apa yang diucapkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq ra ketika dilantik menjadi khalifah :

     "Wahai ummat manusia, aku telah diangkat menjadi khalifah, padahal aku tidaklah lebih baik dari tuan-tuan. Kalau aku berbuat baik maka bantulah aku, dan kalau aku menyeleweng luruskanlah jalanku! Kebenaran adalah amanah, dan kedustaan adalah khianat. Orang yang tertindas diantara kamu adalah kuat dalam pandanganku, sehingga akan kuserahkan padanya haknya. Dan orang perkasa diantara kamu, adalah kuanggap lemah, sehingga aku akan mengambil daripadanya Insya Allah. Janganlah tuan-tuan meninggalkan jihad, sebab Allah menimpakan kehinaan kepada kaum yang tidak berjihad. Taatilah aku selama aku tetap menaati Allah dan Rasul-Nya. kapan aku telah mendurhakai Allah, aku tak usah kamu taati lagi. Tunaikanlah shalat semoga Allah akan memberikan rahmad kepadamu".

     Sebuah pidato yang menyentuh, apalagi terbukti ucapan itu bukan sekedar retorika pemanis bibir. Sebagai kepala negara, Abu Bakar sebetulnya berhak untuk mendapatkan nafkah atas keluarganya dari Baitul Mal. Sekedar cukup untuk ongkos hidup diri dan keluarganya.

     Intinya, pemimpin harus menyadari akan tanggung jawabnya yang besar. Sungguh aneh dizaman ini, orang justru berlomba mengejar beban kepemimpinan itu. inilah persoalannya : Posisi pemimpin lebih dimaknai sebagai berkah ketimbang sebagai amanah.

     Yang penting, jangan sampai kita lupa, di akhirat kelak, setiap tanggung jawab akan dipertanyakan oleh Allah, sesuai dengan tingkat kepemimpinannya.

     Berat memang menjadi pemimpin, tapi Allah Maha Adil, karena ada balasan setimpal bagi pemimpin yang amanah.

     Akhirnya, kita hanya bisa berharap, semoga para pemimpin sadar akan beban yang sedang atau yang akan disandangnya. Sehingga, mereka mampu melihat dan merasakan posisi kepemimpinan sebagai amanah bukan sebagai berkah.

     Semoga Indonesia semakin jaya di era kepemimpinan SBY - Budiono. Dan semog atulisan ini menjadi bahan renungan kita bersama para pemimpin, untuk keluarga, dan diri sendiri. Semoga.

0 Komentar "Kejujuran : Sifat Termulia", Baca atau Masukkan Komentar

Followers